Minggu, 16 Agustus 2015

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
bendera-merah-putih (mensyukuri nikmat kemerdekaan) karyafikri.blogspot.com

Merenungi mahalnya nikmat kemerdekaan
Kemerdekaan adalah salah satu dari sekian banyak kenikmatan yang Allah anugerakan kepada kita. Coba sejenak kita renungkan, bagaimana kalau seandainya Allah menghendaki bangsa ini terjajah hingga kini; tentu Allah bisa mewujudkan kehendak itu.
Bukankah sampai sekarang ada negara-negara diuji Allah dengan kondisi pemerintahan, politik, dan ekonomi yang carut-marut? Diuji dengan perang yang sering berkecamuk, kekacauan, kekurangan bahan makan, dan hilangnya rasa aman? Saudara-saudara kita umat Islam Rohingya, Suriah, Palestina, Yaman, dan lain-lain adalah contohnya. Mereka senantiasa dilanda keributan di negaranya. Mungkin suatu saat mereka merasa tenang, namun tidak lama setelah itu mereka kembali dihadapkan kepada masalah-masalah yang sangat mengoyak ketenteraman dan ketenangan mereka. Lihatlah mereka! Kemudian bayangkan kalau seandainya Allah menimpakan ujian yang mereka alami itu kepada bangsa kita, kita terlunta-lunta dari satu tempat ke tempat lain, hari-hari kita dipenuhi dengan luka dan jerit tangis, perut kita senantiasa meronta-ronta kelaparan sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara kita umat Islam Rohingya. Tentu Allah mampu menimbulkan hal itu kepada kita dan hal itu mudah sekali bagi Allah.
Namun, Alhamdulillah... Allah memberikan kenyamanan, ketenteraman, dan kemerdekaan kepada kita. Kita tidak lagi terjajah, tidak kelaparan, dan tidak sengsara seperti nenek moyang kita yang hidup di zaman penjajahan sehingga dengan itu kita bisa menikmati hidup dengan kondisi tidak terjajah. Maka renungkan firman Allah:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ﴿١٣﴾
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar-Rahmaan: 13)

Bagaimana cara menyukuri nikma kemerdekaan?
Tentunya kita tidak ingin menjadi hamba yang mendustakan atau mengingkari nikmat-nikmat Allah – termasuk nikmat kemerdekaan – kita ingin menjadi hamba yang bersyukur. Akan tetapi, bagaimanakah caranya bersyukur?
Perlu diketahui bahwa di dalam bersyukur, hendaknya terpenuhi 3 unsur berikut [1]:

1. Mengakui dengan hati kita bahwa nikmat itu datang dari Allah
Sebagian manusia ada yang ketika memperoleh nikmat, kesenangan, dan kejayaan, mereka mengalamatkan perkara itu semua kepada kepandaian dan kehebatan makhluk. Dia tidak ingat sama sekali terhadap Allah yang telah membukakan pintu kesuksesan dan kejayaan. Sikap seperti inilah yang disebut dengan kufur nikmat dan dicela di dalam Alquran. Allah berfirman berkenaan dengan Qarun yang kufur nikmat:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ﴿٧٨﴾
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.
(QS. Al-Qashash: 78)

Di sisi lain, ada orang yang mengalamatkan kesuksesan itu kepada anugerah Allah dan karunia-Nya, tetapi menurut dia anugerah Allah itu datang kepada manusia diawali dari kekuatan dan kehebatan manusia. Sikap inilah yang disebut takabbur yang juga tercela di dalam syariat kita.
Ketahuilah, wahai saudaraku, sesungguhnya keberhasilan, kemenangan, dan kemerdekaan itu semuanya datang dari Allah; dan wasilah (sarana) untuk menuju itu semua (yaitu kehebatan dan kekuatan) itu pun datang dari Allah. Kalaulah Allah tidak memberikan kepada bangsa ini kekuatan untuk melawan para penjajah, sudah barang tentu bangsa ini tidak akan pernah merdeka selama-lamanya. Jadi, Allah-lah yang hebat bukan manusia.

2. Memuji Allah dengan lisan
Kenikmatan Allah terlalu banyak untuk kita puji. Seandainya lisan kita terus bergerak memuji Allah atas nikmat-nikmatNya maka itu tidaklah cukup. Bahkan jika lisan semua manusia di jagat ini bergerak terus untuk memuji Allah itu pun belum sebanding dengan nikmat Allah yang Allah berikan kepada mereka. Namun, Allah Maha Mensyukuri. Amal kita dan pujian kita yang sedikit diterima, dimaklumi oleh-Nya, bahkan dilipatgandakan oleh-Nya. Maka dari itu, mari kita perbanyak pujian kepada Allah dengan tasbih, tahmid, takbir, dan kalimat-kalimat lainnya yang diajarkan kepada kita, khususnya ketika kita memperoleh kejayaan, kemenangan, dan pertolongan dari Allah. Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memperoleh kemenangan dan pertolongan, Allah memerintahkan agar beliau bertasbih dan beristighfar. Allah berfirman yang artinya “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlahh ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS an-Nasr: 1-3)

3. Menggunakan nikmat Allah untuk taat kepada-Nya dengan sebaik-baik ketaatan
Insan yang baik dan pandai berterimakasih akan berupaya untuk patuh/ taat kepada Allah dan mempersembahkan apa yang terbaik untuk Allah agar Allah rida kepadanya. Sebab, dia memahami bahwa semua nikmat yang dia rasakan itu hanya dari Allah datangnya.

Mengevaluasi cara mensyukuri nikmat kemerdekaan
Setelah kita memahami cara bersyukur yang benar, mari kita bersama-sama melakukan evaluasi. Sudah benarkah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Allah anugerahkan ini? Mari kita mengevaluasi dari beberapa sisi berikut ini:

1. Sikap anak bangsa ini terhadap syariat Islam
Allah telah memberikan kepada bangsa ini kemerdekaan. Maka dari itu, sudah semestinya bangsa ini mengagungkan syariat Allah sebagai wujud rasa syukur mereka kepada Sang Pemberi nikmat. Namun, sebagian anak bangsa ada yang justu memandang bahwa sebagian syariat Allah sudah tidak relevan dengan kondisi zaman yang sudah maju ini. Syariat Islam tidak menyelesaikan problem bangsa. Menurut mereka, hanya undang-undang yang dirumuskan oleh orang-orang yang berpemikiran modern-lah yang bisa menyelesaikan problem bangsa. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat-Nya?

2. Kecurangan dan kebohongan di berbagai instansi
Allah telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada bangsa ini. Sebab itu, sudah semestinya bangsa ini memperhatikan wasiat-wasiat Allah di dalam Alquran. Di antara wasiat-Nya ialah: “Dan janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil. (QS al-Baqarah: 188)”
Namun, korupsi, kecurangan, kebohongan, manipulasi data, dan sikap tidak amanah menjadi kegemaran sebagian besar anak bangsa. Bahkan sebagian anak-anak bangsa justru menyingkirkan dan mengucilkan orang-orang jujur, yang bersih dan tidak mau diajak berbuat curang. Orang yang tetap konsisten dengan kejujuran justru dianggap sok suci dan tidak kompak. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan?

3. Riba digemari oleh bangsa ini
Di antara wasiat Allah – Rabb yang memberikan kemerdekaan kepada kita – ialah wasiat untuk meninggalkan riba, Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman” (QS al-Baqarah: 278)
Namun, bangsa ini justru sangat bergantung dengan sistem ekonomi ribawi. Bank-bank yang menjalankan praktik riba tumbuh subur di negara ini bak jamur di musim hujan. Baginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan?

4. Perayaan HUT RI yang melemahkan manusia dari shalatnya
Di antara wasiat Allah – Rabb yang memberikan kemerdekaan kepada kita – ialah wasiat agar mendirikan shalat. Allah berfirman yang artinya “Apabila kamu merasa aman, maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman” (QS an-Nisa': 103)
Sayangnya, banyak anak bangsa yang masih gemar menyia-nyiakan shalat. Di hari-hari seperti ini, biasanya sebagian mereka mengadakan karnaval, baris-berbaris, dan aneka lomba demi memeriahkan hari kemerdekaan bangsa. Namun, justru karena lomba-lomba itulah, banyak dari mereka yang pada akhirnya menelantarkan shalatnya. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat Allah?

5. Judi yang menyelundup dalam lomba-lomba perayaan HUT RI
Di antara wasiat Allah adalah wasiat untuk meninggalkan judi. Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang berikman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS al-Baqarah: 90)
Namun, masih ditemui pada sebagian lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan HUT RI, unsur kejudian. Alangkah baiknya jika anak bangsa ini bertanya kepada para ulama agar menjelaskan kepada mereka mana perlombaan yang mengandung unsur judi dan mana yang tidak, agar nantinya mereka tidak terjerumus ke dalam pelanggaran syariat.

6. Pentas seni dan hiburan musik untuk memeriahkan HUT RI
Sebagian besar anak bangsa ketika merayakan HUT RI memeriahkannya dengan pentas-pentas seni dan hiburan musik. Sering dijumpai, wanita-wanita yang mengumbar auratnya ikut tampil di acara tersebut; bernyanyi dan berjoget menghibur kaum pria dan wanita yang bercampur aduk. Mereka lebih gemar mendengar dan menjiwai nyanyian dan musik itu daripada mendengar dan merenungi lantunan ayat-ayat Allah. Bahkan ayat-ayat Allah jarang didengarkan, dibaca, dan ditadaburkan. Beginikah cara bangsa ini mensyukuri nikmat kemerdekaan?
Semoga Allah mengampuni segala kekurangan kita dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang pandai bersyukur. Aamiiin.


[1] Lihat Tazkiyatun Nafs, Ahmad Farid, hlm. 93.

oleh: Hafidz al Musthofa, Lc hafidhohullah

Sumber:
Buletin dakwah islam “al-Furqon” tahun ke 10 volume 7 no 4