Software & Game | Cerpen | Ebook | Review | Puisi | Dll.

Jumat, 25 Juli 2014

Semakin lama, semakin menggoda

Bismillah,
Yah, judul di atas hanya sebuah hasil keputusan dari beberapa pilihan judul yang saya pikirkan sebelumnya. Yaitu "Semakin tua, semakin bersolek", "Semakin malam, semakin gemerlap", "Semakin akhir, semakin menggoda". Yah dan yang semakna dari itu, yang intinya berkaitan dengan "fitnah" atau ujian umat Islam di akhir bulan Ramadhan kali ini.

Sebenarnya bukan masalah besar, namun cukup untuk dijadikan sebuah renungan.
Ini tentang hal kecil yang cukup menguji sebuah kekuatan istiqomah di akhir Ramadhan di tahun-tahun terakhir, khususnya tahun ini dan mungkin juga semakin menantang di tahun mendatang. Yaitu, gemerlapnya hiburan di malam-malam ramadhan khususnya di 10 hari terakhir bulan Ramadhan jelang hari Raya Idul Fitri. Apa itu? Yaitu semakin meriahnya pasar malam, yang di awal ramadhan masih sepi tak begitu ramai kemudian semakin akhir kali ini semakin ramai penjual (dan juga pembeli) di pasar malam. Bermacam-macam barang dijajakan mulai dari mainan, pakaian, makanan-minuman, tak tertinggal hiburan anak-anak dan lain sebagainya.

Apa yang salah?
Tidak ada yang salah. Di semua itu tidak ada yang salah, mereka penjual ingin meraup keuntungan yang mana di jelang hari raya banyak yang mencari barang-barang yang mungkin akan dibeli untuk keperluan untuk menyongsong hari Raya Idul Fitri.

Hanya saja, yang perlu diperhatikan waktu, yaitu waktu shalat maghrib, shalat isya', bahkan tarawihnya mungkin terlupa, tertinggal, memang sudah tidak diperhatikan. Dan semoga saya dan Anda tidak terayu dengan hal demikian, aamiiin. Semoga ALLAH memberi hidayah, dan semoga mereka ingat, juga semoga apa yang saya pikirkan tidak terlalu benar, karena mungkin saja mereka juga melakukan shalat maghrib dan isya' atau bahkan qiyamul lail juga di sela-sela kesibukannya.

Tulisan ini bukan berarti saya lebih baik dari mereka, kalian, Anda.
Hanya sebuah coretan kecil.

Wallahul musta'an.

Kediri, 27 Ramadhan 1435 H/ 25 Juli 2014 M
Share:

Kamis, 17 Juli 2014

Puisi: Hujan datang bukan karena bintang

Bismillah,
Sebuah rasa itu berawal dari terbiasa, walau ada yang tidak seperti itu karena ada rasa yang memang tumbuh perlahan dari pengalaman, secara mendasar, atau dengan cara-cara lain. Bicara tentang rasa, ya saya suka hujan apapun alasannya :-) atau bahkan tanpa alasan.

Tapi, hujan datang bukan karena bintang
Ia datang atas kehendak Sang Maha Perkasa
Dititah, lalu ia perlahan menyapa

Hujan,
Adalah salah satu nikmat
Dari Sang Pemberi nikmat
Hujan,
Atas kehendakNya lah ia ada
Datang dan pergi berdasar izin-Nya

Terimakasih Tuhan
Kau ciptakan hujan untuk kita
Menghiasi dunia
Dan memberi bahagia

Dan kita semua tahu
Hujan datang bukan kerena bintang
Itu adalah kehendak dan izin Sang Kuasa

Kediri, 17 Juli 2014
Share:

Terimakasih

Terimakasih kepada seluruh pengunjung blog ini, plusser, liker, blogwalker, commentator, dan semua yang pernah ada di dalam hidupku.

Fikri

Majalah Kesehatan Muslim

Donasi Dakwah Islam

Copyright © 2010 - Karya Fikri Thufailiy | Powered by Blogger Distributed By Protemplateslab & Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com