Software & Game | Cerpen | Ebook | Review | Puisi | Dll.

Rabu, 26 Februari 2014

Yogyakarta, Yogjakarta, Jogja, Yogja, atau Ngayogyakarta?

Bismillah,
Kadang saya atau juga Anda atau diantara kita :-) masih bingung penulisan juga pengucapan salah satu kota istimewa di Indonesia ini, yaitu Yogyakarta - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tak masalah, hanya saja harus ada standar khusus untuk menentukan penulisan khususnya untuk sesuatu yang resmi misalkan menulis Kartya Tulis Ilmiah atau yang lainnya. Jadi, coba simak pembahasan singkat berikut yang saya ambil dari situs YogYes.com*:

Banyak orang menyebut Yogyakarta dengan nama berbeda-beda. Orang-orang tua menyebut Ngayogyakarta, orang-orang Jawa Timur dan Jawa Tengah menyebut Yogja atau Yojo. Disebut Jogja dalam slogan Jogja Never Ending Asia. Belakangan muncul sebutan baru, yaitu Djokdja. Sekilas memang membingungkan, namun menunjuk pada daerah yang sama. Lalu, bagaimana bisa kisahnya sampai nama kota ini bisa begitu bervariasi?

Paling tidak, ada 3 perkembangan yang bisa diuraikan. Nama Ngayogyakarta dipastikan muncul tahun 1755, ketika Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kraton yang berdiri di Alas Bering itu merupakan wujud Perjanjian Giyanti yang dilakukan dengan Pakubuwono III dari Surakarta.

Tak jelas kapan mulai muncul penamaan Yogyakarta, apakah muncul karena pemenggalan dari nama Ngayogyakarta atau sebab lain. Namun, nama Yogyakarta secara resmi telah dipakai sejak awal kemerdekaan Indonesia. Ketika menjadi ibukota Indonesia pada tahun 1949, kota yang juga bergelar kota pelajar ini sudah disebut Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX juga menggunakan nama Yogyakarta ketika mengumumkan bahwa kerajaan ini merupakan bagian dari Republik Indonesia.

Berbagai penamaan muncul kemudian, seperti Yogja, Jogja, Jogya dan Yogya. Bisa dikatakan bahwa variasi nama itu muncul akibat pelafalan yang berbeda-beda antar orang dari berbagai daerah di Indonesia. Uniknya, hampir semua orang bisa memahami tempat yang ditunjuk meski cara pengucapannya berbeda. 

Karena kepentingan bisnis, nama Jogja kemudian menguat dan digunakan dalam slogan Jogja Never Ending Asia. Slogan tersebut dibuat untuk membangun citra Yogyakarta sebagai kota wisata yang kaya akan pesona alam dan budaya. Alasan dipilih 'Jogja' adalah karena (diasumsikan) lebih mudah dilafalkan oleh banyak orang, termasuk para wisatawan asing. Sempat pula berbagai institusi mengganti Yogyakarta dengan Jogjakarta.

Setelah mengetahui sejarah ringkas tentang nama Yogyakarta, kita dapat mengetahui bahwa kota tersebut memiliki banyak sejarah penamaan. Tapi sobat sudah tahu kan jawaban dari pertanyaan judul di atas? Yups, Yogyakarta tepatnya.

*Untuk membaca lanjutan paragraf cuplikan di atas, silahkan kunjungi link sumber di bawah ini:
Share:

Selasa, 25 Februari 2014

Air Bercampur Debu Vulkanik Untuk Wudhu?

Pertanyaan :
Assalamualaikum. Saya mau tanya ketika terjadi erupsi gunung kelud,banyak diantara rumah yang diliputi debu vulkanik. Termasuk rumah saya. Suatu saat turun hujan, lantas, debu yang ada diatas genteng berubah menjadi lumpur dan masuk kedalam rumah karena adanya genteng rumah yang bocor. Sebagian dari air/ lumpur tersebut masuk dan mencampuri air sumur kami. Hasilnya ketika kami menggunakan air tersebut, warnanya menjadi keruh dan tidak jernih. Pertanyaannya, apakah air tersebut bisa secara hukum digunakan untuk berwudhu dan mandi? dan apakah air tersebut aman untuk digunakan, mengingat adanya
campuran dari debu Vulkanik yang ada di dalam air tersebut?

Dari: Ridhwan (mrp….@gmail.com)
 Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Terdapat kaidah dalam ilmu fiqh yang disebutkan ulama:
الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ
Kaidah ini berdasarkan firman Allah:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dia-lah Dzat yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian” (Qs. al-Baqarah: 29)
Abdurrahman as-Sa`di ketika menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan:
”Dia menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi, sebagai karena berbuat baik dan memberi rahmat, untuk dimanfaatkan, dinikamti, dan diambil pelajaran. Pada kandungan ayat yang mulia ini terdapat dalil bahwa hukum asal segala sesuatu adalah suci. Karena ayat ini disampaikan dalam konteks memaparkan kenikmatan…”
[Abdurrahman as-Sa`di, Taisir al-Karim ar-Rahman: al-Baqarah: 29]
Berdasarkan kaidah ini, maka hukum asal abu vulkanik adalah suci. Bahkan meskipun berbau. Karena semata-mata ada baunya, tidak menyebabkan benda itu berstatus najis.
 Air yang Bercampur Abu Vulkanik
Karena abu vulkanik termasuk benda suci, maka hinggap dimanapun abu ini, tidak mempengaruhi status benda suci lainnya. Sehingga air yang tercampur abu vulkanik tetap suci.
Pertanyaannya, apakah air ini mensucikan?
Maksudnya, apakah air yang tercampur abu vulkanik ini bisa digunakan untuk wudhu atau mandi junub?
Dalam madzhab Syafiiyah, air dibagi menjadi empat,
1. Air suci dan mensucikan. Makna ‘mensucikan’ artinya bisa digunakan untuk menghilangkan hadats besar atau kecil, seperti mandi atau wudhu.
2. Air suci suci, namun makruh jika digunakan untuk bersuci. Dihukumi makruh untuk bersuci, artinya masih sah digunakan untuk mandi atau wudhu, namun hukumnya makruh.
3. Air suci dan tidak mensucikan. Berstatus ‘suci’ artinya jika terkena badan, tidak wajib dicuci. ’Tidak mensucikan’ artinya tidak boleh digunakan untuk wudhu atau mandi, karena air ini tidak mampu mensucikan.
4. Air najis, itulah air yang tidak boleh digunakan untuk bersuci dan jika terkena baju, wajib dicuci.
(al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab as-Syafii, Dr. Musthofa Dib Bagha, 1/31 – 33)
Kita akan fokuskan pada pembahasan ‘Air suci dan tidak mensucikan’
Dalam madzhab Syafii, air yang suci dan tidak mensucikan ada dua:
Pertama, air bekas bersuci orang lain (air musta’mal) yang jumlahnya sedikit.
Kedua, air suci yang tercampur benda suci lainnya yang berasal dari luar, yang tidak mungkin dipisahkan, yang menyebabkan berubah bau, rasa, dan warnanya, sehingga tidak lagi bisa disebut sebagai air, atau namanya berubah menjadi yang lain.
Dalam al-Fiqh al-Manhaji dijelaskan salah satu jenis air suci yang tidak mensucikan,
الماء المطلق الذي خالطه شيء من الطاهرات التي يستغني عنها الماء عادة والتي لا يمكن فصلها عنه بعد المخالطة، فتغير بحيث لم يعد يطلق عليه أسم الماء المطلق: كالشاي والعرقسوس…. وكونه غير مطهر لأنه أصبح لا يسمى ماء في هذه الحالة والشارع اشترط التطهر بالماء
Air yang bercampur dengan benda najis yang bukan unsur air (berasal dari luar), tidak mungkin dipisahkan setelah tercampur, hingga berubah bau, rasa, dan warnanya, dimana tidak lagi bisa disebut sebagai air, seperti teh atau minuman mint…. Air ini tidak mensucikan, karena air dengan campuran semacam ini, tidak dinamakan air. Sementara syariat mempersyaratkan bersuci harus menggunakan air. (al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab as-Syafii, Dr. Musthofa Dib Bagha, 1/33).
Apabila kita perinci, air suci yang kemasukan benda lain, bisa berstatus tidak mensucikan, jika terpenuhi beberapa kriteria berikut,
1. Benda yang masuk merupakan datang dari luar. Jika benda itu datang dari dalam air sendiri, seperti lumut atau ganggang, maka tidak berpengaruh
2. Benda yang adalah benda suci. Jika yang masuk benda najis, maka air menjadi najis
3. Tidak mungkin dipisahkan. Jika memungkinkan dipisahkan, misalnya batu, maka tidak mempengaruhi
4. Menyebabkan berubah minimal salah satu sifatnya: bau, rasa, atau warnanya.
5. Namanya telah berubah, tidak lagi disebut air, misalnya teh, kopi, santan, dst. Dan inilah alasan pokok, mengapa air yang tercampur itu, tidak boleh digunakan untuk bersuci.
Seperti yang kita tahu, air yang bercampur abu vulkanik memenuhi semua kriteria di atas, KECUALI nomor 5. Karena air yang bercampur abu vulkanik nama ‘air’ tidak hilang. Artinya, kita tetap menyebutnya air, bukan teh vulkanik atau kopi vulkanik atau jus abu vulkanik. Kita tetap menyebutnya, air abu vulkanik. Sehingga statusnya tetap bisa digunakan untuk bersuci.
Allahu a’lam

Share:

Kamis, 20 Februari 2014

Nostalgia, kangen handphone jadul...

Bismillah,
Melihat foto handphone jadul (jaman dulu) atau hp lama yang pernah saya punya menjadi ingat masa lalu dan kadang ingin memilikinya lagi. Entah kenapa bisa merasa kangen, entah pada suasana zaman dulu, entah pada keadaan masa lalu, atau pada "perjuangan" utak-atiknya.

Kalau ditinjau dari fitur atau fasilitas dan kecanggihan yang dimiliki perangkat jadul dan perangkat di masa kini apa lagi Android, maka hp jadul tersebut mungkin tidak ada apa-apanya tapi entah rasa apa yang dapat menghadirkan rasa rindu itu?

Atau mungkin karena masih awal mengenal teknologi? dan melakukan eksperimen-eksperimen yang bagi saya masih sangat baru dan menarik. Banyak hal yang tidak saya tahu ketika itu menjadi tahu dan kini menjadi biasa? walau di kini ada yang baru tak terasa "wah" seperti dulu. Ahh, entah aku tak tahu kenapa rindu ini menderu.

Atau... proses itu terasa indah ketika kita sudah melaluinya? bukan ketika mengalaminya? Ya, itu tepatnya tapi untuk merinci alasan kangen handphone jadul masih sulit bagiku.

Pesona antara hp jadul dan perangkat masa kini mungkin berbeda, atau perasaanku saja.
Share:

Sabtu, 15 Februari 2014

Update: Beranda perangkat Android

Bismillah,
Berikut adalah update beranda atau tampilan utama perangkat Android saya (admin karyafikri.blogspot.com) hanya sebagai pengisi posting blog yang lengang ini:

beranda perangkat android admin karyafikri.blogspot.com
Beranda perangkat android saya

Dapat sobat bandingkan dengan tampilan sebelumnya pada bulan oktober tahun lalu, silahkan klik di sini.

Sekian update kali ini, silahkan kunjungi blog sebelah yang berisi tentang review aplikasi dan permainan khususnya untuk perangkat Android di sini (rev-all.blogspot.com)

Untuk update tampilan dan aplikasi-aplikasi yang saya gunakan di homescreen silahkan cek di sini.
Share:

Hikmah meletusnya gunung Kelud 13-14 Februari 2013

Bismillah,
Alhamdulillah, semoga sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wassalam. Telah kita ketahui bersama bahwa pada malam 13 Robiul Akhir 1435 Hijriah atau 13 Februari 2013 Masehi, pada sekitar pukul 11.00 WIB gunung kelud mengalami erupsi atau meletus.

Berita terus bergulir hingga kini, abu vulkanis yang mencuat dari gunung tersebut hingga 200juta kubik. Dan hikmah dibalik menyebarnya abu tersebut bahkan hingga ke jawa tengah dan jawa barat adalah tersebarnya abu vulkanis sehingga tidak akan menumpuk di wilayah sekitar gunung kelud saja. Dapat kita bayangkan bagaimana jika abu vulkanis yang kini sudah tersebar ke banyak wilayah pulau jawa bahkan Bali dan Madura hanya menumpuk pada Kediri, Blitar atau Tulungagung saja? Mungkin karisidenan Kediri akan menjadi lautan abu! Subhanallah dan Alhamdulillah, ALLAH benar Maha Adil dan semua ini adalah atas kehendak dan izinNYA.

Lagi, dibalik hikmah meletusnya gunung kelud adalah tanda kepatuhan makhluk kepada Penciptanya yaitu gunung yang patuh kepada ALLAH dimana hal itu terjadi atas kehendak dan izinNYA. Selain daripada itu, ini juga sebagai pengingat kepada manusia betapa kecilnya manusia, betapa lemahnya manusia, dan betapa butuhnya manusia kepada Pencipta.

InsyaALLAH masih banyak hikmah yang dapat ambil dari kejadian ini. Hanya sekian yang dapat saya tuliskan, semoga saja dapat menjadi renungan untuk diri saya dan kita semua. Aamiiin.

- Hanya sebuah coretan kecil dari seorang hamba yang kurang ilmu -
Share:

Terimakasih

Terimakasih kepada seluruh pengunjung blog ini, plusser, liker, blogwalker, commentator, dan semua yang pernah ada di dalam hidupku.

Fikri

Majalah Kesehatan Muslim

Donasi Dakwah Islam

Copyright © 2010 - Karya Fikri Thufailiy | Powered by Blogger Distributed By Protemplateslab & Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com